Maenan CBQ

November 20, 2006 at 12:04 pm (linucks sux, slack)

Gue termasuk orang yang tidak bisa menata file di komputer dengan rapi. Ya, kalau kalian punya waktu luang dan berkenan meriksa isi harddisk komputer gue, kalian akan menemukan banyak file yang bertebaran di sembarang folder.

Salah satu tempat yang paling banyak menyimpan file adalah direktori tmp. Padahal mustinya cuma temporary doangan yah. Nggak heran kalau akhirnya space harddisk komputer gue penuh dengan file-file tidak jelas. Sementara di komputer gue juga tersimpan koleksi Smallville dan Heroes. Alhasil demi kepentingan yang lebih penting, gue terpaksa memindahkan beberapa koleksi ke harddisk pc lain yang nganggur dan mempunyai space besar.

Nah, yang jadi masalah adalah, kalau gue sedang melakukan aksi abusing space harddisk, secara otomatis gue melakukan abusing bandwidth yang ada. Kenapa? Kalau ngecek di mrtg yang ada, setiap kali gue melakukan kupi-mengkupi file, maka mrtg yang ada langsung melonjak gila-gilaan.

mrtg upload

Kok bisa? Ya namanya transfer antar pc, bandwidth yang ‘kosong’ dan tidak dilimit mengakibatkan gue abusing 2 hal dalam waktu yang bersamaan. Setelah dipikir-pikir, akhirnya gue memutuskan untuk masang bandwidth limiting di pc gue khusus untuk traffic scp. Kok scp? Karena gue transfer file antar pc melalui scp.

Tadinya gue mikir mau pakai HTB, tapi karena gue udah pernah maenan HTB beberapa kali sementara CBQ belum pernah gue sentuh, jadi aja CBQ yang gue pake.

Langkah yang perlu dilakukan, pertama-tama, Install Linux.

Pastikan kernel linux anda dikompail dengan modul yang dibutuhkan oleh CBQ. Kalau sudah, download cbq.init. Simpan file cbq.init itu ke dalam direktori /etc/rc.d. Untuk Redhat dan teman-temannya, anda bisa simpan di /etc/rc.d/init.d. Karena gue pake slackware, file cbq.init itu gue namakan rc.cbq.init.

Buat direktori cbq di /etc/sysconfig

# mkdir -p /etc/sysconfig/cbq

Karena gue hanya mau ngelimit traffic scp, maka gue bikin file cbq-10.scp-network di direktori /etc/sysconfig/cbq. Isi file tersebut kurang lebih begini:

DEVICE=eth0,10Mbit,1Mbit
RATE=1000Kbit
WEIGHT=100Kbit
LEAF=sfq
PRIO=5
RULE=202.1.2.3,:22

Besaran RATE dan WEIGHT itu gue ubah-ubah tergantung kebutuhan gue transfer file seberapa cepat atau seberapa gede traffic yang nongol di mrtg.

Kalau sudah, tinggal compile cbq dengan menjalankan perintah
/etc/rc.d/rc.cbq.init compile

Kalau sudah yakin mau ngelimit traffic, jalankan cbq-nya
/etc/rc.d/rc.cbq.init start

Kalau sudah bosen nungguin kopi file yang lama, matiin cbq
/etc/rc.d/rc.cbq.init stop

Done.

Permalink 5 Comments

Clearing Quarantine Mail

November 16, 2006 at 4:20 pm (linucks sux, slack)

Kalau punya email server yang dilengkapi antivirus, salah satu kegiatan rutin selain ngecek log, musti juga rajin-rajin ngecek folder quarantine. Itu kalau option antivirus-nya diset quarantine, kalo diset buat delete ya ga usah dicek.

Qmailscanner yang gue pake punya direktori quarantine di direktori /var/spool/qmailscan/quarantine, dan karena dia berupa maildir, semua email yang dikarantina ada di /var/spool/qmailscan/quarantine/new.

Karena traffic email gue cukup padat (dengan sekitar puluhan ribu spam setiap hari), maka isi dari direktori quarantine ini cepat sekali melonjak. Dalam sebulan gue pernah dapet sekitar 2GB email bervirus yang dikarantina. Karena email-email bervirus ini gak ada gunanya disimpen, kecuali elu orang yang doyan neliti virus, maka tugas gue adalah menjaga space harddisk yang ada untuk menyimpan hasil donlodan seperti Smallville.

Gue kerajinan bikin script buat bersihin isi direktori karantina, padahal sebenernya sih bisa pake program tmpwatch, tapi distro yang gue pake rupanya nggak doyan masang tmpwatch ini di dalam paket-paketnya.

Solusi yang gampang bagi gue ya tinggal ngikutin petunjuk di sini. Tinggal pakai perintah find.

find /var/spool/qmailscan/quarantine/new -type f -atime +30 -delete

Gue setel dengan option -atime +30, yang berarti cari semua file yang tanggal aksesnya lebih dari 30 hari. Dengan kata lain, gue menyisakan email-email yang dikarantina dalam hitungan 1 bulan (30 hari) terakhir.

Perintah find ini dimasukin dalam crontab, tinggal pilih berapa kali perlu dijalanin dalam waktu satu minggu. Gue sih prefer menjalankan setiap hari, pada jam-jam yang nggak sibuk.

Yang rada aneh, gue nggak menemukan option -delete ini di distro redhat. Mungkin karena beda versi paket find.

Permalink 2 Comments

What You Have to do After Installing Qmail

October 4, 2006 at 11:46 am (linucks sux, slack)

Di kantor gue kebanyakan server yang ada pakai Linux dan mereka rata-rata RedHat base. Gue gatel banget pengin ngeganti beberapa server pakai Slackware. Alasannya? Pengin aja. Kebetulan ada satu server yang harddisknya selalu masalah, hampir tiap seminggu sekali crash. Kalau nggak crash, kinerjanya lambat sekali, bikin queue email pada numpuk di sana semua.

Nah, kemarin kebetulan ada waktu senggang, gue sempetin untuk membabat habis isi server itu dan gue install Slackware 10.2. Server ini digunakan untuk email, jadi setelah selesai install Linux, gue langsung install qmail mengikuti petunjuk yang ada di qmailrocks.

Waktu instalasi sedikit menemukan masalah dengan spamassassin, entah kenapa qmail-scanner nggak mau ngajak spamassassin jalan. Hampir setengah hari waktu gue abis untuk ngoprek masalah ini. Solusinya gimana? Gue lupa. Terlalu banyak jurus trial n error, sehingga gue malah nggak tahu langkah mana yang bener.

Setelah bener semua, gue iseng ngerefresh site slackware.com, mau liat apakah sudah ada update di versi -current. Tapi yang gue dapet malah beginian :
Sun Oct 1 23:50:53 CDT 2006
Slackware 11.0 is released. Thanks to everyone who helped out and made this release possible. If I forgot you in the ChangeLog, mea culpa, but you know who you are, and thanks. :-)
Enjoy! -P.

Yeah rite™. Hanya beberapa saat setelah selesai konfigurasi qmail. Tapi bukan masalah besar kok. Slackware dengan mudah bisa diupgrade ke versi selanjutnya tanpa downtime yang lama.

Setelah konfigurasi qmail berdasarkan qmailrocks selesai, pekerjaan nggak habis sampai di sini saja. Masih ada beberapa hal yang perlu dilakukan, khususnya untuk beberapa settingan yang sesuai dengan kebutuhan gue.

Yang pertama, install Linux.

Kedua, matiin notify virus alert yang dikirimkan ke email postmaster.
# vi /var/qmail/bin/qmail-scanner-queue.pl
#Addresses that should be alerted of any quarantined Email
my $NOTIFY_ADDRS='none';

Ketiga, buat rotate untuk log qmail-scanner dan kawan-kawannya. Kalau nggak dirotate, dalam waktu 1-2 minggu ukuran file log sudah lebih dari ratusan mega.
# vi /etc/logrotate.conf
# qmail-queue log rotate
/var/spool/qmailscan/qmail-queue.log {
daily
create 0600 qscand qscand
rotate 7
compress
}
/var/spool/qmailscan/qms-events.log {
daily
create 0600 qscand qscand
rotate 7
compress
}
/var/spool/qmailscan/quarantine.log {
daily
create 0660 qscand qscand
rotate 7
compress
}

Ada beberapa hal lain yang musti dimainkan, tapi gue lupa tutsnya. Ntar diapdet lagi deh kalo inget.

Permalink 4 Comments

Using iPod on Linux

September 7, 2006 at 3:20 pm (linucks sux, slack)

Okey, judulnya aja sok inggris, isinya mah Indonesia semua. Semenjak beberapa hari yang lalu gue kebagian jatah ngisi mp3 ke ipod. Kebetulan banyak lagu yang mau dimasukin ke ipod belum ada, jadi musti ngedonlod dulu. Bodohnya gue, kebiasaan donlod di kantor, suka lupa dikopi ke flashdisk buat dibawa ke rumah trus dimasukin ke ipod.

“Kenapa nggak ipodnya aja yang dibawa ke kantor trus ngisinya di kantor?”

Wah ide bagus tuh. Sayangnya workstation gue masih full Linux dan gue terlalu malas ngebongkar cdrom buat nginstall Windows. Jadi berbekal kemampuan googling, gue mencari cara bagaimana ngisi mp3 ke ipod via Linux.

Dari hasil googling, gue malah lebih banyak menemukan project iPodLinux. Me-linux-kan ipod. Sebuah project yang jauh dari tujuan gue semula yang cuma ngisi lagu ke ipod via Linux.

Yang sempat tercetus:

  • Install crossover trus install iTunes
    iTunes sukses terinstall tapi ipod tak kunjung terdeteksi
     
  • Install vmware trus install windows trus install iTunes
    Rasanya ada yang aneh
     
  • Install windows trus install iTunes
    Tadi dah dibilangin males bongkar cdrom
     

Akhirnya setelah berjibaku[1] dengan google, gue menemukan link howto using iPod nano in Linux, berdasarkan howto di sana, akhirnya gue memilih menggunakan gtkpod.

Nah, untuk bisa nginstall gtkpod ini, sebelumnya harus sudah terinstall libid3tag, libmp4v2, dan tentu saja libgpod. libid3tag berfungsi untuk ngedit id3tag di gtkpod. Ingat, iPod menggunakan id3tag untuk displaynya.

Cara nginstallnya gimana? Baca READMEnya atuh! Sebagian besar tinggal jalanin tiga langkah sakti yaitu
./configure
make
make install

Hanya saja waktu nginstall gtkpod, yang perlu dijalankan adalah
./bootstrap
make
make install

Gue nggak menemukan kesulitan berarti waktu nginstall 4 paket ini. Cuma sempet bingung waktu gtkpod gak bisa menemukan libgpod (yang mana gue yakin udah gue install). Diulang berkali2 tetep nggak bisa configure gtkpod. Ternyata kesalahannya adalah gue lupa[2] jalanin “make install” waktu nginstall libgpod. duh …

Dengan gtkpod memang gak bisa seperti iTunes, bisa playing sambil ngopi lagu ke ipod. gtkpod sejauh ini bagi gue berfungsi untuk mengisi lagu ke ipod, ngedit id3tag, ngapus lagu di ipod. Ya segitulah kira-kira.

Sayangnya, ipod yang lagi gue isi ini bukan punya gue :D


[1] ya ya, terlalu over
[2] faktor uzur?

Permalink 2 Comments

Read The Changelog, Stupid!

August 4, 2006 at 10:56 am (linucks sux, slack)

Untuk desktop kerja gue, udah 3 tahun lebih gue pake distro slackware. Kenapa ga pake Windows? Ga tau, ga peduli, Gue cuma nyari mana yang nyaman gue pake buat kerja (brosing, ceting, donlod).

Untuk upgrade paket di slackware, gue pake software slapt-get, yang dikenal sebagai apt-nya slackware.

Satu bulan terakhir ini, gue asik ngapgred distro slack gue ke versi -current. Enak, tinggal jalanin slapt-get --update; slapt-get --upgrade -a Tunggu beberapa lama untuk dia download paket-paket yang akan diapgred, trus slackware gue udah apdet ke versi current.

Tapi gue selalu failed tiap kali apgred basic system, termasuk X11 dan KDE. Sampai akhirnya tiap kali apgred KDE ke versi 3.5.3, gue musti downgrade ke versi 3.4.2 bawaan slack 10.2. Daaaan, baru hari ini gue mencoba untuk apgred KDE lagi ke versi terbaru di slackware-current. Hasilnya? Blah! Gagal maning gagal maning son … Error messagesnya cuma “could not start kdeinit”. Tidak membantu sama sekali.

Pas lagi downgrade ke versi 3.4.2, ga sengaja ngeliat log error di file ~/.xsession-errors. Di situ gue tau ada file yang gak ada, yaitu libacl.so.1. Setelah googling, akhirnya gue tau semenjak 8 Februari 2006, paket acl dan attr dipisah dari paket xfsprogs. Dan dari forum ini akhirnya gue menyadari, bahwa aplikasi seperti slapt-get tidak akan menginstall paket-paket yang baru saja ditambahkan ke dalam versi current, karena mereka hanya akan mengapgred paket yang sudah terinstall. Bodoh! Makanya, sebelum melakukan apgred, baca dulu Changelog yang ada!

Anyway, sekarang KDE gue udah versi 3.5.3. Dan dulu setelah downgrade ke versi 3.4.2, gue ga pernah bisa ngepop gmail lagi. Sekarang setelah beberapa paket ditambahin sesuai dengan di Changelog, semuanya kembali normal :D

Permalink 3 Comments